PTS Se-Indonesia Silaturahim Bersama Menristek

aptisi-menristek

Semarang – Kebijakan pengembangan pendidikan tinggi diharapkan tidak hanya dilihat dengan kacamata kuda, dan melakukan generalisasi bukan berarti saat ini kualitas Pendidikan Tinggi sudah merata semua. Terlebih melakukan generalisasi dengan menganggap seolah semua Perguruan Tinggi di tanah air seperti PTN/PTS besar.

Fakta yang ada, variasi Perguruan Tinggi di tanah air yang sangat besar, ada yang mempunyai kualitas sangat baik, sedang, dan ada yang masih sangat rendah kualitasnya. Ini tidak bisa ditangani dengan cara yang sama, dengan kebijakan generik, untuk masalah berbeda-beda. Kebijakan perlu melihat fakta lapangan yang ada.

Demikian disampaikan Ketua Umum Aptisi Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec dalam dialog nasional APTISI se-Indonesia dengan Menristek Dikti Prof. Drs. M. Nasir, M.Si, Ph.D di GOR Kampus Universitas Semarang, Sabtu, 8 November 2014. Pertemuan dihadiri lebih 200 pengurus Aptisi se-Indonesia, yang sebagian besar curhat tentang perlakuan diskriminatif terhadap PTS, juga sulitnya pengajuan guru besar.

Dalam tanggapannya Prof. Drs. M. Nasir, M.Si, Ph.D menyatakan akan mencermati keluhan-keluhan yang ada. Ia menyatakan tuduhan diskriminatif tidak sepenuhnya benar. Misalnya beasiswa studi lanjut dosen yang ternyata lebih banyak diperoleh untuk swasta. Terkait dengan Guru Besar, menteri pun menyatakan akan terus mencermati terkait plagiatisme dalam pengajuan tersebut.

Pada kesempatan itu Nasir juga menyatakan tekadnya agar penelitian di kementeriannya betul-betul bisa diaplikasikan di masyarakat dan bisa bekerja sama dengan korporasi atau industri yang ada. (*/apt)